Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

Cerpen



 Saat Rinai Hujan Berhenti
Oleh: Ening Herniti
Pukul 20.30 WIB hujan masih juga turun sejak Magrib. Shoffi masih asyik mengetik makalahnya. Tapi, beberapa menit kemudian pikirannya terganggu oleh sesuatu. Fifi termangu sesaat. Ya Robbi, seharusnya bara itu sudah dapat ditepiskan sejak dulu. Fifi takut pada suatu ketika cepat atau lambat akan memercikkan api yang bisa membakar dirinya. Sebuah kebencian yang bercokol di hatinya. Usaha? Sudah berkali-kali Fifi mengusahakannya. Setidaknya mengikis. Mata Fifi mengerjap sesaat. Memerah. Terasa dadanya bergemuruh. Meluap ingin meledak. Memuntahkan segala kebencian yang bersarang di dadanya. Tanpa sadar jarinya meremas kertas-kertas makalah yang ada di sebelah kiri mesin ketik.
Pukul 21.15 WIB, Fifi masih bercengkerama dengan hati dan pikirannya. Ingin sekali Fifi menghindari bayangan silam. Bertahun-tahun yang lalu ketika Fifi belum mengerti arti perbedaan pria dan wanita. Konsep feminisme. Konsep mar’atushsholihah. Dan sebagainya - dan sebagainya yang bikin pusing kepala. Konsep feminisme, sepintas menjanjikan kebebasan wanita. Namun, ada beberapa sisi yang Fifi nggak setuju. Konsep mar’atushsholihah yang hanya ada dalam ajaran Islam? Luar biasa………. andai si pria tidak merasa lebih. Ah, andai saja manusia itu sadar posisinya masing-masing, tidak perlu ada pergerakan-pergerakan semacam itu.
Hujan belum berhenti bersenandung juga. Namun, Fifi mulai penat. Penat pada kenyataan, hati, pikiran, dan harapannya. Sekelebat ada bayangan. Perlahan bayangan itu mendekatinya. Samar. Fifi tidak tahu siapa dia. Sedikit demi sedikit bayangan itu membentuk nyata. Pyar!!! Jantung Fifi terasa berhenti berdetak. Tak percaya. Fifi mengerjap-ngerjapkan matanya. Takut jika itu hanya ilusinya. Sosok itu masih berdiri di depannya. Begitu cantik dan anggun dengan gaun putih bersih berkerudung jingga. Wajah itu teramat dikenalnya yang selalu ada di hati dan pikiranya. I b u. Fifi ingin sekali mendekap untuk melepaskan berjuta kerinduan yang menghiasi hari-harinya. Fifi amat kehilangan semenjak ibunya pergi. Fifi terpaku. Terhipnotis.
“Fi, Ibu tahu apa yang Fifi rasakan. Kejadian bertahun-tahun yang lalau sangat membekas di hatimu. Ibu sedih jika melihat Fifi seperti ini. Aku tahu kau selalu mengingatku meski pada hari akhirku Fifi tidak di sisiku untuk melepas kepergianku. Tapi, itu lebih baik. Karena jika saat itu kau ada, kau akan semakin tersiksa. Lihatlah aku, Fi! Apakah kau lihat kesedihan terpancar dari mataku, terlukis di wajahku?” Fifi menggeleng lemah, “Aku sangat bahagia sekarang. Di alamku tidak ada dusta.” Fifi menatap lekat wanita yang berdiri di depannya. Wanita itu tersenyum lembut.
“Bu………” Fifi ingin mengatakan sesuatu, tetapi terasa kelu lidahnya.
“Katakanlah, Fi. Ibu akan mendengarkannya.”
“Mengapa ibu pergi sebelum aku membahagiakan ibu?”
“Mengapa Fifi tanyakan hal ini. Bukankah hidup dan mati itu karena Allah?!”
“Ibu pergi dengan membawa penderitaan.”
“Justru sebaliknya. Ibu pergi dengan melepaskan segala beban. Sekarang Ibu baru tahu bahwa semua yang kulakukan di dunia ini tidak sia-sia meski pada saat itu Ibu teramat tertekan.”
“Kadang, Fifi tak habis pikir mengapa Bapak berbuat setega itu pada Ibu
“Karena Bapak merasa ‘lebih’ dibanding Ibu. Kesombongannya yang membuat Bapak seperti itu. Beliau merasa paling benar sehingga tidak mau menerima masukan dari siapa pun termasuk Ibu.”
“Mengapa saat itu Ibu menerima saja perlakukannya?”
“Karena Ibu sangat sayang pada kalian. Ibu tidak ingin kalian, anak-anakku, menderita jika Ibu memilih berpisah dengan Bapak. Ibu ingin kalian bahagia.”
“Dengan mengorbankan kebahagiaan Ibu sendiri?”
“Kebahagiaan itu tidak akan teraih tanpa pengorbanan, Fi. Apa yang ditanam, itu yang dipetik kelak. Di dunia ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dan tak ada penderitaan yang tak usai.”
“Sebenarnya Bapak sangat baik. Manusia tidak ada yang sempurna kan, Fi?”
“Bapak memperlakukan Ibu seperti budak. Itu tidak adil.”suara Fifi agak serak menahan amarah dan tangis. Wanita itu hanya tersenyum.
“Ibu mengerti mengapa Fifi begitu membenci Bapak. Pertama, karena Fifi adalah anakku. Kedua, karena kita sama-sama wanita. Ibu sangat kecewa kalau Fifi sampai membenci Bapak padahal Bapak sangat sayang padamu.”
“Sebenarnya Fifi sangat sayang pada Bapak. Namun, jika ingat perlakukan Bapak pada Ibu, perasaan benci itu tiba-tiba muncul.”
“Dan Fifi menilai pria itu begitu semua, kan. Itu tidak benar, Fi. Di antara pasir-pasir pasti ada emas, bukan?”
“Tapi, Bu………..”
“Ibu mengerti. Jangan menilai sesuatu bila berangkat dari rasa bencimu. Itu tidak adil, Fi. Tidak perlu mencari atau menanti orang lain untuk meyakinkanmu. Sebenarnya semua tergantung padamu.”
“Aku selalu berusaha. Semampuku. Tapi, peristiwa masa lalu selalu mengikis usahaku. Apa yang kulakukan lagi, sedang aku mulai penat. Aku lelah, Bu.”
“Sebenarnya, Fifi tidak sepenuhnya berusaha, kan. Fifi selalu dalam keraguan dan ketakutan. Itu kenyataannya sehingga membuat Fifi seperti ini.”
“Aku tidak ingin bernasib seperti Ibu.”
“Siapa pun tidak ingin, Fi. Tidak ingin. Sebagai manusia tentunya ingin dihargai sebagaimana manusia yang punya keinginan, pikiran, dan kebebasan mengembangkan diri. Itu sebenarnya yang perlu dicatat. Namun, satu hal yang perlu Ibu ingatkan jika kelak Fifi telah berkeluarga, ingatlah tanggungjawabmu sebagai istri dan ibu dari anak-anakmu. Selangkah saja Fifi meninggalkan tanggung jawab itu, maka akan terjadi bencana yang sangat mengerikan. Jangan memperjuangkan sesuatu yang tidak sepatutnya untuk diperjuangkan, karena itu akan sia-sia.”
“Tapi, mereka memandang kita rendah dan lemah, Bu.”
“Tidak semuanya berpandangan seperti itu, Fi. Jika kita tidak sanggup menghormati diri kita sendiri jangan harap orang lain akan menghormati kita. Siapa yang mengatakan wanita itu lemah? Laki-laki ataukah kita sendiri. Sebenarnya, jika wanita itu sanggup menggunakan kelemahan itu, dia akan kuat sekali sebab dengan sekali langkah wanita sanggup mengubah wajah dunia.”
Fifi mengerti, Bu.” Wanita itu tersenyum puas. Berlahan sosok itu kembali samar, dan …….. kemudian menghilang seiring berhentinya rinai hujan. Fifi terpana.
“Bu….!!!” sebenarnya suara itu ingin dikeluarkan, tetapi berhenti sampai di tenggorokan. Fifi terduduk lemas. Mimpikah? Atau itu sekedar ilusinya. Atau memang ibunya datang. Fifi tidak mengerti atas kejadian tadi.
Jam di kamar telah menunjukkan pukul 23.43 WIB. Malam semakin larut. Malam kembali lengang dengan dingin yang menusuk tulang, tapi tak sanggup terpejamkan mata Fifi meski itu hanya sekejap. Bu, aku mengerti, bisik Fifi lirih.

Senin, 13 Agustus 2012

Profil


Isti Zusrianah, Ketua Umum PW Fatayat NU DIY, 2011-2016.
Guru TK yang Menjadi Ketua Fatayat Yogya

(Aula, Agustus 2012)
Mbak Yoes, begitu Isti Zusrianah biasa disapa sahabat-sahabat fatayat dan kaum muda NU di Yogyakarta. Penampilannya yang kalem dan sederhana tidak menampakkan prestasi organisasi yang telah diraihnya. Kesederhanaannya memang nampak dari kesehariannya yang hidup di desa, tetapi semangat berorganisasi justru menjadikan potensi kesederhanaan itu menjadi istimewa. Ia sederhana, tapi juga ulet, telaten, pantang menyerah dan selalu optimis. Gaya bicaranya kalem, tidak provokatif dan penuh teori. Tetapi di balik gaya kalemnya, ia menyimpan energi yang ajeg, konsisten, dan penuh dedikasi untuk organisasi yang ditekuninya, Fatayat. Ia sederhana, tapi energik dan penuh wibawa.
Itulah Mbak Yoes, Ketua Umum Pengurus Wilayah (PW) Fatayat NU Daerah Istimewa Yogyakarta. Terpilih sebagai Ketua PW Fatayat NU DIY dalam Konferensi Wilayah X Fatayat DIY pada 21 Desember 2011. Saat itu, ia tak menyangka akan mendapatkan amanah menjadi Ketua PW Fatayat NU DIY. Amanah itu bukan ia banggakan, tapi ia terima dengan penuh dedikasi. Menjadi Ketua Ketua PW Fatayat NU DIY, bagi Mbak Yoes, bukan menjadi ajang untuk merengkuh karir pribadi, melainkan sebuah dedikasi perjuangan untuk memberdayakan kaum perempuan.

Bermula dari Usul dan “Obsesi”
Mengenal kegiatan-kegiatan organisasi NU dimulainya sejak masih duduk di bangku SMA. Ia mendapat inspirasi dari sang ibu yang juga menjadi aktivis organisasi di IPPNU, Fatayat dan Muslimat. Secara tidak langsung beliau lah yang memberi daya dorong yang besar dalam diri Mbak Yoes untuk terus berjuang di NU.
Awalnya ia mengikuti kegiatan NU di Pengurus Anak Cabang (PAC) Fatayat Sewon, ia memiliki ide menarik untuk memajukan kegiatan PAC Sewon. Dari satu ide tersebut kemudian sahabat-sahabatnya mempercayakan ia menjadi Ketua PAC Fatayat NU Kec. Sewon sekitar tahun 1990-an. Inilah tonggak pertamanya ia menyelami organisasi. Mbak Yoes dikenal sebagai sosok yang memiliki ide-ide cemerlang, namun kesulitan yang ia hadapi adalah karena anggota PAC memiliki banyak perbedaan, salah satu yang mencolok adalah perbedaan status pendidikan. Tetapi Mbak Yoes tidak putus asa, ide cemerlangnya tetap ia ungkapkan dengan mengadakan acara yang mampu menjembatani perbedaan sahabat-sahabat PAC.
“Kalau saya mengadakan acara yang standar, seperti yasinan, dziba’an, sholawatan, dan sebagainya, maka sahabat yang status pendidikannya tinggi merasa bosan dan kurang menarik, namun ketika saya mengadakan acara yang ilmiah, sahabat yang status pendidikannya menengah ke bawah akan merasa minder dan terkucilkan. Maka saya punya ide membuat kegiatan semi ilmiah bernama “Obsesi” (obrolan seputar remaja dan syi’ar Islam).” Jelasnya.
Saat itu mendapatkan sambutan besar dari fatayat NU Bantul dan Yogya. Mulai saat itu, PAC Sewon bukan saja mendapatkan sambuatan kaum santri saja, tetapi juga kalangan aktivis sosial, pengamat sosial, biroktrasi pemerintah dan sebagainya. Ini bahkan menjadi pencontohan dari berbagai PAC di Bantul. Dengan prestasi yang diraihnya, ia menjadi Ketua PAC selama dua periode.
Kala reformasi bergulir di Indonesia, Mbak Yoes menjadi tokoh reformis Fatayat NU di Bantul. Tahun 1998 itu juga, Mbak Yoes mendapatkan amanah sebagai Ketua Cabang Fatayat NU Bantul. Kegiatan-kegiatan pemberdayaan ia galakkan, banyak kegiatan yang sukses yang ia adakan. Sama seperti di PAC, ia juga mampu memimpin selama dua periode.
Saat itu Mbak Yoes membuat program pemberdayaan bagi perempuan-perempuan Bantul. Dulu Bantul dikenal sebagai pusat prostitusi. Inilah yang menjadi kegelisahan Mbak Yoes untuk berjuang memberikan yang terbaik dari masyarakat. Ia tak ingin nama baik Bantul justru malah dijadikan sebagai media prostitusi.
Mbak Yoes bekerja sama dengan Departemen Kelautan dan Perikanan. Kemudian memelopori berdirinya “Paguyuban Perempuan Pesisir Niswati Bahari.” Dari sini, ia mengajak sahabat-sahabat fatayat NU Yogya untuk memberikan kontribusi besar kepada masyarakat.
“Saya ingin berjuang bahwa prostitusi tidak boleh dibiarkan. Dengan pendampingan itu, kawasan pesisir kemudian pelan-pelan menjadi lebih baik. Sekarang justru menjadi kawasan kuliner yang banyak diminati wisatawan. Angan-angan yang saya harapkan akhirnya terwujud juga.” jelasnya.
Dengan gerakan yang membuahkan hasil baik di PC Bantul, Mbak Yoes kemudian berkiprah di PW Fatayat NU DIY periode 2007, ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pengurus Wilayah Ftayat NU DIY. Kemudian pada tahun 2011 hasil Konferensi Wilayah ke X ia terpilih menjadi Ketua.

Harapan Untuk Fatayat NU DIY
“Saya cukup selektif memilih para pengurus. Saya ingin bersama pengurus wilayah NU DIY memunculkan seluruh potensi, saling bahu-membahu dalam mengembangkan fatayat, terutama membantu kaum perempuan di desa untuk terus berdaya.” Itu ungkapan yang disampaikan ketika ditanyai bagaimana ia memilih sahabat untuk menjadi pengurus wilayah.
Mbak Yoes kemudian menambahi tentang harapannya, “Saya melihat pengurus fatayat mempunyai potensi yang besar. Kalau pengurus fatayat ini bisa menjadikan perempuan lain menjadi kuat dan potensial, maka ini akan membuat fatayat lebih bermanfaat. Yang jadi dosen bukan saja menjadi dosen di kampusnya saja, tetapi juga mau membimbing kaum perempuan di desa.” 
Ia berpikir bahwa PW Fataya NU DIY, merupakan jembatan alternatif untuk pemberdayaan pengurus anak cabang dan pengurus cabang, juga mampu memberikan kontribusi besar bagi pemberdayaan perempuan.
“Iya, berdaya bersama-sama, saling membantu dan bekerja sama. Harapan saya tidak muluk-muluk, hanya semoga itu terlaksana dengan baik,” tegasnya.

Tantangan Politik
Tantangan besar yang selalu menghinggapi fatayat adalah persoalan politik. Ini juga berimbas serius terhadap organisasi Fatayat. Betapa fatayat yang tidak terlibat langsung juga kena imbasnya. Fatayat selalu berada dalam posisi “terjepit”, karena tarikan politik praktis selalu membawa nama fatayat untuk kepentingan sepihak masing-masing pihak.
“Sering sekali kita akan dimobilisir untuk kepentingan partai politik tertentu. Kita diminta aksi dengan sekian biaya yang akan ditanggung. Tetapi saya merasa tidak mempunyai kepentingan untuk itu. Maka saya tidak mau terjebak dalam tarikan-tarikan politik itu,” tegas Mbak Yoes.
Pada awal tahun 2000-an, partai politik yang berafiliasi dengan kaum kaum santri terlibat serius dalam konflik yang tak berujung. Hampir semua organ santri, dalam hal ini NU juga Fatayat, mendapatkan tantangan serius. Yogya juga mendapatkan tantangan itu. Mbak Yoes mencoba berdiri tetap teguh dengan prinsipnya bahwa organisasi fatayat akan selalu berjuang di garis perjuangan. Tidak akan terlibat dan berafilisasi dengan politik praktis. Ini ia lakukan, karena ia berpegang dengan amanah NU yang tidak berpolitik praktis, tetapi berpolitik kebangsaan. Inilah yang ia pegangi ketika menjadi Ketua Cabang NU Bantul dan Ketua PW Fatayat NU DIY.

Istiqomah Menjadi Guru TK
Sosok sederhana dan kalem yang memiliki segudang prestasi dan kegiatan di organisasi ini memiliki rasa kecintaan yang luar biasa kepada anak-anak kecil. Kecintaannya itu membawanya untuk mengabdikan dirinya di salah satu Taman Kanak-Kanak (TK) Mardi Tama Garon Sewon Bantul.
Sudah sejak tahun 2004, Mbak Yoes mengajar TK.  Mengajar membuatnya merasakan dunia yang mengasikkan. Bertemu dengan murid-murid kecilnya adalah sebuah momen yang indah yang selalu ia rasakan. “Saya nikmat mengajar. Saya senang sekali bermain dengan anak-anak. Inilah yang menjadi tugas keseharian saya. Saya bangga menjadi guru TK,” tegasnya. 
Mbak Yoes merupakan guru yang gemar memberikan motivasi pada murid-muridnya. Terlihat ketika banyak dari mereka sering bermain ke rumahnya hanya untuk belajar dan membaca buku. Keinginan belajar dari murid-murid TK ini tak lain karena sentuhan tangan dari Mbak Yoes yang selalu memberikan motivasi kepada mereka untuk menanamkan bahwa belajar itu penting.
“Murid-murid saya sering datang ke rumahnya untuk pinjam buku-buku saya. Mereka senang datang ke rumah untuk belajar. Para orang tua juga senang melihat anaknya belajar di rumah. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya,” jelasnya.
Aktif di organisasi bukan berarti tidak mampu konsisten di TK, justru malah bertemu dengan murid-murid TK merupakan pelepas beban yang diembannya. Bahkan mampu merefres kembali pikiran yang penuh dengan permasalahan di organisasi. Memang menjadi seorang guru TK tidaklah memiliki nilai materi yang banyak, namun bagi Mbak Yoes menjadi Guru TK adalah kepuasan tersendiri ketika melihat anak didiknya dapat menimba ilmu dengan senang dan orang tua yang sangat apresiatif dengan pengajarannya.
“Ucapan terima kasih orang tua kepada saya, jauh lebih mahal harganya dari pada hanya berharap nilai materi saja.” Jelasnya.
Selain itu banyak pelajaran yang ia dapatkan selama menjadi guru TK. Anak TK pasti sering punya konflik atau bertengkar dengan temannya, namun pertengkaran itu tidak bertahan lama, bahkan sesaat kemudian mereka bisa bermain bersama lagi. Ini yang membuat mbak Yoes beajar menangani konflik dan berlajar bijak ketika berhadapan dengan kaum oganisatoris yang heterogen. “kejujuran, polos dan apa adanya.” Inilah ciri-ciri anak yang justru memberikan banyak pelajaran hidup bagi Mbak Yoes.
“Saya merasa mengajar TK justru menjadi energi bagi saya. Bermain dengan anak-anak sangat ceria, bahagia. Hati polos anak-anak justru memberikan cermin bagi anak-anak TK.” Sisi-sisi kemurnian penuh nurani dari anak-anak inilah yang kemudian menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi persoalan di dalam mengelola PW Fatayat NU DIY.
Itulah Mbak Yoes, perempuan  berhati mulia dan memiliki semangat berjuang tinggi untuk memberdayakan perempuan-perempuan yang masih termarjinalkan. Sosok perempuan seperti Mbak Yoes inilah yang diharapkan oleh bangsa Indonesia khususnya warga NU. Profesi menjadi guru TK bukanlah profesi yang memalukan, bahkan guru TK adalah sosok yang mampu menyelami kenuranian hati manusia sehingga mampu menjadi manusia yang bernurani. (Muyassarotul/Afif)

Jumat, 16 Maret 2012

Kisah 2


Ibu Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh,
Teladan Berorganisasi bagi Perempuan NU

Siapa bilang perempuan NU tidak mahir berorganisasi? Para Ibu Nyai telah memberikan banyak teladan ketika di pesantren. Makanya, kala berada di luar pesantren, perempuan NU sudah terlatih. Kalau masih ragu dengan hal ini, simaklah kisah singkat Ibu Nyai Hj. Umroh Mahfudzoh berikut ini. Anda akan mendapatkan jawabannya!

Dilahirkan 4 Februari 1936 di kota Gresik, Jawa Timur, Umroh mengawali pendidikan dasar di kota kelahirannya. Sempat berhenti sekolah hingga tahun 1946 karena clash II, Umroh melanjutkan ke Madrasah Ibtidaiyah NU di Boto Putih, Surabaya. Dilahirkan dari pasangan K.H. Wahib Wahab dan Hj. Siti Channah, Umroh tumbuh dan dewasa di lingkungan NU. Sebagai cucu pendiri NU, K.H. Abdul Wahab Chasbullah, masa kecil Umroh banyak dilalui di lingkungan pesantren, khususnya pada masa liburan yang banyak dihabiskan di Tambak Beras, Jombang, tempat kelahiran ayahnya.
Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, sejak kecil Umroh dididik untuk bisa hidup mandiri. Hasrat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah sekaligus mewujudkan impian merantaunya terpenuhi ketika diterima sebagai siswa SGA Surakarta. Ketika partai-partai politik meluaskan sayapnya pada pertengahan 50-an, Umroh mulai menerjunkan diri sebagai Seksi Keputrian Pelajar Islam Indonesia (PII) -organisasi pelajar afiliasi partai Masyumi- ranting SGA Surakarta. Namun, sejak berdirinya NU sebagai partai politik sendiri tahun 1952, Umroh mulai berkenalan dengan organisasi-organisasi di lingkungan NU.
Sembari mengajar di Perguruan Tinggi Islam Cokro, Surakarta, Umroh yang nyantri di tempat Nyai Masyhud mulai menerjunkan diri sebagai wakil ketua Fatayat NU cabang Surakarta. Semangat Umroh yang menyala-nyala membawa pada kesadaran akan perlunya sebuah organisasi pelajar yang khusus menghimpun putra-putri NU. Berdirinya IPNU yang khusus menghimpun pelajar-pelajar putra pada awal tahun 1954 membuat keinginan Umroh untuk membuat organisasi serupa khusus untuk para pelajar putri semakin menggebu-gebu.
Gagasannya dituangkan lewat diskusi intensif dengan para pelajar putri NU di Muallimat NU dan SGA Surakarta yang sama-sama nyantri di tempat Nyai Masyhud. Kegigihan Umroh memperjuangkan pendirian IPNU-Putri (kelak berubah menjadi IPPNU) membawanya duduk sebagai Ketua Dewan Harian (DH) IPPNU. DH IPPNU adalah organ yang bertindak sebagai inkubator pendirian sekaligus pelaksana harian organisasi IPPNU.

Kamis, 15 Maret 2012

Kisah 1


Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim,
Perempuan NU yang Mendunia

Perempuan NU sudah berdaya sejak NU itu berdiri. Ini dibuktikan dengan kisah perjuangan Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim, seorang perempuan NU yang terkenal ‘alim dalam ilmu agama, pelopor pesantren perempuan pertama di Indonesia, bahkan pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Arab Saudi atas dedikasinya dalam pendidikan. Berikut ini kisah sekilas beliau, semoga menjadi pelajaran penting bagi perempuan NU hari ini.
Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim dilahirkan pada tahun 1908 M (1326 H) di Tebuireng, Jombang. Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim merupakan puteri pertama dari Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dan Nyai Hj. Nafiqoh. Dengan demikian, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim adalah kakak kandung dari K.H. A. Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama dan bibi dari K.H. Sholahudin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng saat ini.
Meskipun tidak pernah menuntut ilmu di pesantren lain, namun pola pendidikann yang diberikan Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari telah mampu menjadikan Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim sebagai salah satu pejuang kaum perempuan yang patut diperhitungkan, baik melalui institusi pendidikan yang dikelola maupun melalui organisasi kemasyarakatan yang dipimpin.
Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim banyak mendalami ilmu dari sosok Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari, di samping upaya yang sungguh-sungguh untuk belajar sendiri (otodidak). Meskipun Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari sangat sibuk dengan berdakwah, namun tetap memiliki waktu untuk mengajarkan ilmu kepada Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim. Sering Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim mengikuti pengajian di masjid Pesantren Tebuireng dari belakang tabir.

Pelopor Pesantren Perempuan
Setelah menikah dengan K.H. Ma’shum ‘Ali, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim kemudian diutus Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan pesantren di Seblak yang khusus mendidik santri puteri. Bersama suami, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim merintis pendirian pesantren tersebut. Namun, beberapa tahun setelah Pesantren Puteri Seblak berdiri, K.H. Ma’shum ‘Ali meninggal dunia pada tahun 1933 dan dimakamkan di kompleks pemakaman Pesantren Tebuireng.
Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim kemudian melanjutkan kepemimpinan Pesantren Puteri Seblak sampai tahun 1937 dengan dibantu oleh para guru. Meskipun Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim adalah seorang perempuan, namun kapasitas keilmuan yang dimiliki di bidang agama tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, tidak jarang Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim juga memberikan pengajian di daerah-daerah sekitar Dusun Seblak.