Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Maret 2013

Kegiatan PW Fatayat


Sarasehan Sastrawan Perempuan
“Pengarusutamaan Gender dalam Karya Sastra"

Acara yang diselenggarakan oleh Devisi Sosial, Seni dan Budaya PW. Fatayat NU DIY pada Minggu 17 Maret 2013 lalu mampu menggugah semangat menulis bagi para peserta. Di Pendopo LKiS ini acara sarasehan berlangsung menarik dan seru. Mb' Abidah pun terlihat bersemangat dalam mengisi acara tersebut. Ia pun banyak bercerita tentang kisahnya selama pembuatan Novel "Perempuan Berkalung Sorban", proses difilm-kannya sampai bagaimana reaksi masyarakat dalam menanggapi kontroversi yang ada pada Film tersebut. 
Begitu pun dengan Mb' Ismaa Kazee, dia menjelaskan bahwa penulis perempuan yang mengangkat tema pengarusutamaan gender masih sangat minim, kita harus menciptakan regenerasi untuk penulis perempuan. mb' Ulfatin CH juga menjelaskan akan kekuatan syair itu sangat dasyat merubah pola pikir masyarakat.
untuk lebih jelasnya simak notulensi dari kami, semoga bermanfaat:

Abidah El-Khaliqy:
Terima kasih untuk kedatangan dan kesabaran teman-teman serta molornya juga J. Saya yakin semua sudah baca makna wal’ashri, ini luar biasa. Calon sastrawan memang harus begini J
Di Majenang ada Ponpes Miftahul Huda, dipimpin oleh mantan Dirjen haji Kemenag Pusat, Bpk KH Slamet Riyanto. Saya ditodong memberikan setetes ilmu kepada para wakil santri, kyai, bu nyai yang ada di situ. Karena acaranya mendadak, saya bicara apa saja yang penting bagaimana mereka tahu dari yang sedikit  itu. Acara itu begitu penuh dan padat. Dalam perjalanan itu saya disms Azzah, “mbak jangan lupa besok acara Sarasehan ya”. Saya bilang: “saya siap”, padahal belum saat itu. Tapi sekarang saya sudah siap.
Setahu saya kata “pengarusutamaan” itu dari kata “Mainstream”, berarti pemainstreaman gender dalam karya sastra. Saya pikir ini berhubungan dengan novel “Perempuan Berkalung Sorban”. Kalau saya harus membicarakan novel itu dari A sampe Z kita akan ketemu dengan tema ini dengan sempurna.
Pagi ini akan saya ceritakan novel ini, latarnya, dibikinnya seperti apa, proses dibuat film seperti apa lalu ada kontroversi.
Gagasan awalnya adalah dari Yayasan Kesejahteraan Fatayat (YKF) DIY. Kami bergabung di situ dan menggagas sebuah media pemberdayaan perempuan melalui novel, maka ditulislah novel ini. Jadi ide awalnya dari YKF karena mereka punya program pemberdayaan perempuan. Saya bukan dari YKF. Saya dipanggil untuk hadir, kemudian kami sepakat. Saya lihat apa yang akan dilakukan YKF itu bukan hanya bagus tapi juga mulia.
Novel ini kan isinya kampanye tentang hak reproduksi perempuan, seputar fiqhunnisa. Pengetahuan kita tentang kesehatan reproduksi adalah ketika kita hamil, menyusui, hanya sampai di situ. Padahal ternyata ketika kita ingin mengetahui lebih jauh tentang reproduksi ini di sana ada hak-hak perempuan. Dalam fiqhunnisa sudah diatur bahkan sudah diratifikasi oleh PBB, namum belum tersosialisasi. Ternyata di situ saya tahu hak reproduksi peremouan itu menyangkut seluruh daur kehidupan peremouan dari mulai lahir sampai ke liang lahat. Seperti belajar dari lahir sampai mati minal mahdi ilallahdi. Mulai aqiqah, laki-laki 2 kambing perempuan hanya satu. Ketika perempuan mens ada hak reproduksi yang perlu diberikan oleh masyarakat. Kita sendiri sebagai perempuan belum tahu. Inilah yang ingin disampaikan oleh novel ini.