Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

Resensi buku


Dari Perempuan untuk Kesuksesan

Judul  : Sifat-sifat perempuan yang Membuat Pasangannya Jadi Orang Sukses
Penulis      : Muyassarotul Hafidzoh
Penerbit    : Diva Press
Tahun        : 2013
Halaman`  : 216 Halaman                    
Peresensi   : Devisi Litbang*

Memahami sifat-sifat perempuan, alangkah lebih baik kalau memahami apa perempuan itu sendiri. Ada banyak istilah terhadap sosok anak cucu hawa ini. Tetapi buku menggunakan kata perempuan. Ada juga yang menyebut wanita, ada juga masyarakat yang menyebut betina. Bahasa-bahasa itu hadir dengan latar historis dan sosiologis-antropologisnya sendiri, sehingga seringkali makna yang hadir menjadi bias. Padahal, bahasa-bahasa itu untuk  memberikan penanda bagi perempuan. Semua perempuan tentu akan akan sepakat kalau penanda itu memberikan makna positif, bukan negatif.
Baik perempuan maupun wanita, makna yang diharapkan adalah makna yang positif, bukan makna yang dipolitisasi. Anak cucu hawa menghendaki yang terbaik, yang ditempatkan secara terhormat, bukan dimarginalisasikan. Karena Tuhan menciptakan perempuan bukan untuk dinistakan, melainkan untuk mendapatkan penghormatan. Dengan kehormatan itulah, perempuan akan menjadi pasangan yang memberikan energi besar bagi suaminya

Rabu, 30 Mei 2012

Resensi Buku

Perjuangan Perempuan Menggapai Impian
Oleh: Siti Muyassarotul hafidzoh*

Judul buku      : A Golden Web: Kisah Ahli Anatomi Perempuan Pertama di Dunia
Penulis         : Barbara Quick
Penerbit        : Atria Jakarta
Cetakan         : 1, 2011
Tebal            : 272 halaman

 “Meskipun aku sangat mengaguminya, Aristoteles keliru dalam banyak hal. Dia berkata,”keberanian seorang lelaki tampak dalam caranya memerintah dan keberanian seorang perempuan tampak dalam caranya mematuhi’. Jika memakai penilaian itu aku ini seorang pengecut”.
Demikian salah satu ungkapan Alessandra Giliani dalam novel A Golden Web ini halaman 257. Novel yang ditulis oleh Barbara Quick ini sangat memukau. Kisah yang sudah berusia berabad-abad tentang Alessandra Giliani, seorang ahli anatomi perempuan pertama di dunia dihadirkannya secara nyata. Alessandra Giliani atau sering disebut Sandra adalah remaja berambut ikal yang memiliki kecerdasan dan kecintaan terhadap literatur ilmu pengetahuan yang sangat besar. Sayangnya dia lahir sebagai putri hawa, sosok perempuan.
Namun walaupun ia terlahir sebagai sosok perempuan. Ia berani untuk mematahkan pendapat-pendapat Aristoteles tentang kaumnya. Ia berpikir bahwa perempuan bisa menjadi lebih baik dari seorang lelaki kalau saja diberi kesempatan untuk mempelajari banyak hal. Seperti cuplikan dialog di atas, Alessandra tidaklah setuju dengan anggapan Aristotels tentang memaknai keberanian, justru ia mengatakan bahwa dirinya seorang pengecut jika membenarkan apa yang dikatakan Aristoteles.
Memang, pada abad keempat belas, kehidupan perempuan masih sangat kelam. Sejarah yang tak bisa dipungkiri bahwa perempuan yang hidup di abad tersebut tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk melakukan perubahan. Perempuan hanya bisa hidup di dalam rumah, belajar hanya seadanya saja, dan harus selalu patuh pada perintah ayah maupun suaminya. Dalam sejarah, kaum perempuan akan dibakar ditiang pembakaran jika melakukan provokasi, walaupun hanya sedikit.
Namun, begitulah sejarah.

Kamis, 24 Mei 2012

Resensi Buku


Kejernihan Hati Seorang Emak
Oleh: Siti Muyassarotul Hafidzoh*

Judul                : Emak: Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne
Penulis             : Daoed Joesoef
Penerbit           : Buku Kompas Jakarta
Cetakan           : I, April 2010
Tebal               : 292 halaman
                     
Kesuksesan yang diraih seseorang tak bisa dilepaskan dari sosok kharismatik seorang perempuan yang memegang jabatan alami selaku emak, ibu, bunda, inang, indung, embok, nyak, mama, dan mami. Emak menjadi sumber kesukesan, karena apapun yang diraih seseorang, pastilah berawal dari hal paling kecil yang diajarkan seorang Emak sejak di alam kandungan. Kasih sayang Emak tak lekang oleh waktu, menjadi inspirasi paling menggugah dalam ruang kesadaran, dan membuat jiwa kehidupan tak pernah mundur dalam menghadapi beragam tantangan. 

Kejernihan jiwa seorang Emak inilah yang dirasakan oleh Daoed Joesoef. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983) di era Orde Baru yang rajin menulis ini mengakui dengan penuh kesaksian bahwa yang diajarkan Emaknya sejak masa ayunan sampai sekarang masih begitu membekas. Linangan air mata begitu deras menetes tatkala Daoed meraih gelar doktoral di Sorbonne, Prancis, dengan prediket membanggakan, summa cumlaude. Bukan karena dia orang pertama Indonesia yang meraih gelar tersebut di Prancis, melainkan karena ketidakhadiran Emak yang telah mangkat ke alam bakha yang membuatnya tak kuasa menahan tangis tatkala meraih gelar doktoralnya.
Dengan begitu takzimnya, Daoed dalam buku ini menyatakan bahwa Sang Emaklah yang telah menuntun kehidupannya selama ini. Walaupun sang Emak tidak pernah mengenyam bangku sekolah, tetapi Emak selalu membangun suasana nyaman Daoed dan saudaranya untuk terus belajar tanpa henti. Emak, bagi Daoed, memang tak bisa baca latin, apalagi bahasa Inggris, Belanda, dan Prancis, tetapi keteguhan untuk belajar Daoed dapatkan dari Emaknya. Emaklah yang menyekolahkan Daoed di Sekolah Belanda, walaupun mendapatkan banyak kecaman dan cibiran dari warga sekitar. Emak ingin sang anak, Daoed, kelak bisa menghentikan penajajahan Belanda, sehingga Daoed harus menyelami ilmu pengetahuan yang dimiliki Belanda, barulah bisa mengalahkan Belanda.  

Nasionalisme Emak memang luar biasa. Semangat membela Indonesia begitu menyala dalam diri Emak. Walaupun hanya hidup di Kampung Darat di Medan, Sumatera Utara, Emak mengobarkan semangat perjuangan keluarganya untuk bisa menjadi yang terbaik bagi Indonesia. Membela Indonesia bagi Emak bukanlah dengan cara fisik mengangkat senjata, karena tak mungkin Emak dan keluarga Daoed mengangkat senjata. Yang dilakukan Emak adalah mengangkat pena dan akal, agar bisa cerdas dan berpendidikan, sehingga gemuruh nasionalisme memancarkan lebih tajam. Indonesia harus dibela dengan sesungguhnya, bukan sekedar ala kadarnya. Itulah Emak.   

Dari Kampung Darat menuju Sorbonne, Daoed tak bisa berkata apa-apa, kecuali: Emak! Ya, kegigihan yang menancap dalam diri Daoed, sampai dia dipercaya Presiden Soeharto menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tak lain karena ajaran keluhuran budi yang diajarkan Emaknya. Bukan teori yang ndakik-ndakik yang diaplikasikan Daoed tatkala menjabat Menteri Pendidikan, melainkan kejernihan hati dan keteguhan prinsip yang diajarkan Emaknya yang selalu dia ingat untuk membangun karakter pendidikan anak Indonesia saat itu.

*Litbang PW Fatayat NU DIY

Jumat, 16 Maret 2012

NU, Lesbumi dan Politik Kebudayaan


Data buku:
Judul Buku    : Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan  
Penulis            : Choirotun Chisaan
Penerbit          : LKiS, Yogyakarta
Cetakan          : 1, Februari 2008
Tebal buku    : xiv + 310 halaman 

 Buku ini merupakan buku sangat menarik. Bukan saja pembaca akan mengenal apa itu Lesbumi, tetapi juga akan diajak mengembara dalam belantara kebudayaan Indonesia, khususnya yang terkait dengan strategi politik kebudayaan yang dijalankan NU. Hj. Choirotun Chisaan, MA., sang penulis, tak lain adalah sosok yang sangat dekat dengan organisasi NU, khususnya PW Fatayat NU DIY. Selamat membaca ulasan singkat tentang buku Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan. Semoga menambah banyak wacana dan pengetahuan.

Era Indonesia modern, adalah era dimana telah telah terjadi hubungan yang sangat erat antara seni budaya dan politik. Bahkan pada fase tertentu, seni budaya dipandang sebagai produk dari sebuah proses politik itu sendiri. Sehingga hampir bisa dipastikan bahwa partai-partai politik yang memiliki massa besar pada waktu itu, seperti PKI, Masyumi, NU dan lain sebagainya, semuanya memiliki lembaga seni budayanya masing-masing. Fenomena ini dapat kita jumpai terutama ketika menjamurnya berbagai lembaga kesenian dan kebudayaan yang kemudian berafiliasi dengan partai politik tertentu dalam kurun waktu antara 1950-1960-an.
Ditengah menjamurnya lembaga seni budaya tersebut, lahir pula sebuah lembaga kebudayaan yang bernama Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia atau disingkat Lesbumi. Masa kelahiran Lesbumi (1962) itu sendiri adalah masa dimana telah terjadi gejolak yang cukup serius yang dipicu oleh perbedaan aliran pada masing-masing lembaga kesenian dan kebudayaan pada saat itu, yaitu perdebatan antara penganut realisme sosialis dan pendukung humanisme universal, yaitu antara Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan PKI di satu pihak dan para pencetus Manifes kebudayaan di pihak lain.
Namun demikian, berbeda dengan Lekra yang dilekati dengan garis aliran realisme sosialis maupun kubu Manifes Kebudayaan yang dilekati garis aliran humanisme universal, Lesbumi lahir dengan membawa karakter utama yaitu kentalnya akan warna ”religius” dalam produk-produk seni budayanya. Warna ini sengaja diambil oleh Lesbumi dengan maksud disamping untuk menghidari dua titik ekstrim antara kubu Lekra dan Manifes Kebudayaan juga memberikan alternatif baru dalam berkesenian dengan memberikan tempat bagi unsur keagamaan (Islam) ketimbang sebuah ”pertarungan” politik. Oleh karena itu, kemunculan Lesbumi tentu juga ikut mewarnai debat kebudayaan yang terjadi pada saat itu.
Ironisnya, dalam setiap memperbincangkan debat kebudayaan, terutama pada kurun waktu 1950-1965, nama Lebumi seolah ”lenyap” entah kemana. Berangkat dari persoalan itulah, buku yang ditulis oleh Choirotun Chisaan dengan judul ”Lesbumi Strategi Politik Kebudayaan” ini hadir ditengah-tengah kita. Alih-alih menganalisis mengenai tiga persoalan pokok, yaitu historisitas Lesbumi, posisi Lesbumi ditengah perdebatan politik aliran seni budaya di Indonesia kurun waktu 1960-an serta dinamika intern yang terjadi di tubuh Lesbumi itu sendiri, buku ini mencoba mengungkap fenomena Lesbumi yang hilang dari wacana dalam membahas ”debat” kebudayaan yang terjadi pada masa-masa itu. 
Lesbumi itu sendiri adalah lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan NU (Nahdhlatul Ulama) yaitu pada saat NU menarik diri dari partai Masyumi dan menjadi partai politik sendiri di tahun 1952. Secara resmi, Lesbumi dibentuk pada 28 Maret 1962 dengan beranggotakan para artis, pelukis, bintang film, pemain pentas, sastrawan juga para ulama yang memiliki latar belakang seni cukup baik. Setidaknya ada dua momen penting yang melatari kelahiran Lesbumi. Pertama, adalah

Kamis, 15 Maret 2012

Jendela Buku

Buku Respon NU Terhadap Kekerasan Perempuan

Sebuah buku berjudul “Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan demi Keadilan” hasil kerjasama antara Komnas Perempuan dengan NU diluncurkan di Jakarta, Rabu (30/6/2010)

Buku ini merupakan upaya Komnas Perempuan bersama dengan kelompok-kelompok agama, termasuk didalamnya Nahdlatul Ulama menyuarakan gerakan terhadap penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Neng Dara Afian, salah satu komisioner Komnas Perempuan menjelaskan kerjasama ini dibangun melalui para teolognya dengan berproses bersama melalui sebuah dialog yang konstruktif dan berkesinambungan antara perempuan dan korban dan komunitas serta pemuka agamanya, demi kebenaran, keadilan dan pemulihan.

Buku yang ditulis oleh Dr Nur Rofiah Bil Uzm ini mengangkat beberapa kasus kekerasan, yakni poligami, perempuan kepala keluarga di lingkungannya, serta perempuan buruh migran (TKW) untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik bagi diri dan keluarganya.

“Tiga fenomena ini cukup menjelaskan tindakan kekerasan yang dialami perempuan di tengah-tengah masyarakat yang patriarkhal dan pemahaman yang “keliru” terhadap ajaran agama yang telah meminggirkan, mendiskriminasikan bahkan menihilkan keberadaan perempuan,” katanya.

Buku ini menawarkan cara pandang baru dari