Selasa, 15 Juli 2014

Bedah Buku dan Diskusi




Bedah Buku dan Diskusi
 "Perempuan, Spiritual, dan Tantangan Peradaban: Catatan Pemula Menghampiri Misi Hidup"
Senin, 14 Juli 2014, Pukul 15.30 s.d. 18.15
di Halaman SMP Ali Maksum
Jalan Cuwiri 230, Jogokaryan, Mantrijeron, DIY


Pembukaan Bedah Buku dan Diskusi dengan diiringi hadroh

Para peserta bedah buku dan diskusi

Para panitia yang tetap semangat walaupun sedang menjalankan ibadah puasa (maafkan aku yang tidak bisa datang he...he...he....)

Para pembicara didampingi Pengurus Wilayah Fatayat NU DIY. Keep smile!!!




Minggu, 13 Juli 2014

Buka Puasa Bersama


Acara Silaturahim, Buka Puasa Bersama, 
dan Koordinasi Persiapan Acara Bedah Buku
Hari Sabtu, Tanggal 12 Juli 2014,
Pukul 15.30 - Buka Puasa,
di  Rumah Niswatin Faoziah (Anis),
Blotan Rt 3 Rw 40, No A-14 Wedomartani, Ngaglik, Sleman
Mbak Yus memberi sambutan

Acara silaturahmi

Mbak Febri pamitan dan mohon doa restu akan studi lanjut

Sabtu, 07 Desember 2013

Cerpen



 Saat Rinai Hujan Berhenti
Oleh: Ening Herniti
Pukul 20.30 WIB hujan masih juga turun sejak Magrib. Shoffi masih asyik mengetik makalahnya. Tapi, beberapa menit kemudian pikirannya terganggu oleh sesuatu. Fifi termangu sesaat. Ya Robbi, seharusnya bara itu sudah dapat ditepiskan sejak dulu. Fifi takut pada suatu ketika cepat atau lambat akan memercikkan api yang bisa membakar dirinya. Sebuah kebencian yang bercokol di hatinya. Usaha? Sudah berkali-kali Fifi mengusahakannya. Setidaknya mengikis. Mata Fifi mengerjap sesaat. Memerah. Terasa dadanya bergemuruh. Meluap ingin meledak. Memuntahkan segala kebencian yang bersarang di dadanya. Tanpa sadar jarinya meremas kertas-kertas makalah yang ada di sebelah kiri mesin ketik.
Pukul 21.15 WIB, Fifi masih bercengkerama dengan hati dan pikirannya. Ingin sekali Fifi menghindari bayangan silam. Bertahun-tahun yang lalu ketika Fifi belum mengerti arti perbedaan pria dan wanita. Konsep feminisme. Konsep mar’atushsholihah. Dan sebagainya - dan sebagainya yang bikin pusing kepala. Konsep feminisme, sepintas menjanjikan kebebasan wanita. Namun, ada beberapa sisi yang Fifi nggak setuju. Konsep mar’atushsholihah yang hanya ada dalam ajaran Islam? Luar biasa………. andai si pria tidak merasa lebih. Ah, andai saja manusia itu sadar posisinya masing-masing, tidak perlu ada pergerakan-pergerakan semacam itu.
Hujan belum berhenti bersenandung juga. Namun, Fifi mulai penat. Penat pada kenyataan, hati, pikiran, dan harapannya. Sekelebat ada bayangan. Perlahan bayangan itu mendekatinya. Samar. Fifi tidak tahu siapa dia. Sedikit demi sedikit bayangan itu membentuk nyata. Pyar!!! Jantung Fifi terasa berhenti berdetak. Tak percaya. Fifi mengerjap-ngerjapkan matanya. Takut jika itu hanya ilusinya. Sosok itu masih berdiri di depannya. Begitu cantik dan anggun dengan gaun putih bersih berkerudung jingga. Wajah itu teramat dikenalnya yang selalu ada di hati dan pikiranya. I b u. Fifi ingin sekali mendekap untuk melepaskan berjuta kerinduan yang menghiasi hari-harinya. Fifi amat kehilangan semenjak ibunya pergi. Fifi terpaku. Terhipnotis.
“Fi, Ibu tahu apa yang Fifi rasakan. Kejadian bertahun-tahun yang lalau sangat membekas di hatimu. Ibu sedih jika melihat Fifi seperti ini. Aku tahu kau selalu mengingatku meski pada hari akhirku Fifi tidak di sisiku untuk melepas kepergianku. Tapi, itu lebih baik. Karena jika saat itu kau ada, kau akan semakin tersiksa. Lihatlah aku, Fi! Apakah kau lihat kesedihan terpancar dari mataku, terlukis di wajahku?” Fifi menggeleng lemah, “Aku sangat bahagia sekarang. Di alamku tidak ada dusta.” Fifi menatap lekat wanita yang berdiri di depannya. Wanita itu tersenyum lembut.
“Bu………” Fifi ingin mengatakan sesuatu, tetapi terasa kelu lidahnya.
“Katakanlah, Fi. Ibu akan mendengarkannya.”
“Mengapa ibu pergi sebelum aku membahagiakan ibu?”
“Mengapa Fifi tanyakan hal ini. Bukankah hidup dan mati itu karena Allah?!”
“Ibu pergi dengan membawa penderitaan.”
“Justru sebaliknya. Ibu pergi dengan melepaskan segala beban. Sekarang Ibu baru tahu bahwa semua yang kulakukan di dunia ini tidak sia-sia meski pada saat itu Ibu teramat tertekan.”
“Kadang, Fifi tak habis pikir mengapa Bapak berbuat setega itu pada Ibu
“Karena Bapak merasa ‘lebih’ dibanding Ibu. Kesombongannya yang membuat Bapak seperti itu. Beliau merasa paling benar sehingga tidak mau menerima masukan dari siapa pun termasuk Ibu.”
“Mengapa saat itu Ibu menerima saja perlakukannya?”
“Karena Ibu sangat sayang pada kalian. Ibu tidak ingin kalian, anak-anakku, menderita jika Ibu memilih berpisah dengan Bapak. Ibu ingin kalian bahagia.”
“Dengan mengorbankan kebahagiaan Ibu sendiri?”
“Kebahagiaan itu tidak akan teraih tanpa pengorbanan, Fi. Apa yang ditanam, itu yang dipetik kelak. Di dunia ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dan tak ada penderitaan yang tak usai.”
“Sebenarnya Bapak sangat baik. Manusia tidak ada yang sempurna kan, Fi?”
“Bapak memperlakukan Ibu seperti budak. Itu tidak adil.”suara Fifi agak serak menahan amarah dan tangis. Wanita itu hanya tersenyum.
“Ibu mengerti mengapa Fifi begitu membenci Bapak. Pertama, karena Fifi adalah anakku. Kedua, karena kita sama-sama wanita. Ibu sangat kecewa kalau Fifi sampai membenci Bapak padahal Bapak sangat sayang padamu.”
“Sebenarnya Fifi sangat sayang pada Bapak. Namun, jika ingat perlakukan Bapak pada Ibu, perasaan benci itu tiba-tiba muncul.”
“Dan Fifi menilai pria itu begitu semua, kan. Itu tidak benar, Fi. Di antara pasir-pasir pasti ada emas, bukan?”
“Tapi, Bu………..”
“Ibu mengerti. Jangan menilai sesuatu bila berangkat dari rasa bencimu. Itu tidak adil, Fi. Tidak perlu mencari atau menanti orang lain untuk meyakinkanmu. Sebenarnya semua tergantung padamu.”
“Aku selalu berusaha. Semampuku. Tapi, peristiwa masa lalu selalu mengikis usahaku. Apa yang kulakukan lagi, sedang aku mulai penat. Aku lelah, Bu.”
“Sebenarnya, Fifi tidak sepenuhnya berusaha, kan. Fifi selalu dalam keraguan dan ketakutan. Itu kenyataannya sehingga membuat Fifi seperti ini.”
“Aku tidak ingin bernasib seperti Ibu.”
“Siapa pun tidak ingin, Fi. Tidak ingin. Sebagai manusia tentunya ingin dihargai sebagaimana manusia yang punya keinginan, pikiran, dan kebebasan mengembangkan diri. Itu sebenarnya yang perlu dicatat. Namun, satu hal yang perlu Ibu ingatkan jika kelak Fifi telah berkeluarga, ingatlah tanggungjawabmu sebagai istri dan ibu dari anak-anakmu. Selangkah saja Fifi meninggalkan tanggung jawab itu, maka akan terjadi bencana yang sangat mengerikan. Jangan memperjuangkan sesuatu yang tidak sepatutnya untuk diperjuangkan, karena itu akan sia-sia.”
“Tapi, mereka memandang kita rendah dan lemah, Bu.”
“Tidak semuanya berpandangan seperti itu, Fi. Jika kita tidak sanggup menghormati diri kita sendiri jangan harap orang lain akan menghormati kita. Siapa yang mengatakan wanita itu lemah? Laki-laki ataukah kita sendiri. Sebenarnya, jika wanita itu sanggup menggunakan kelemahan itu, dia akan kuat sekali sebab dengan sekali langkah wanita sanggup mengubah wajah dunia.”
Fifi mengerti, Bu.” Wanita itu tersenyum puas. Berlahan sosok itu kembali samar, dan …….. kemudian menghilang seiring berhentinya rinai hujan. Fifi terpana.
“Bu….!!!” sebenarnya suara itu ingin dikeluarkan, tetapi berhenti sampai di tenggorokan. Fifi terduduk lemas. Mimpikah? Atau itu sekedar ilusinya. Atau memang ibunya datang. Fifi tidak mengerti atas kejadian tadi.
Jam di kamar telah menunjukkan pukul 23.43 WIB. Malam semakin larut. Malam kembali lengang dengan dingin yang menusuk tulang, tapi tak sanggup terpejamkan mata Fifi meski itu hanya sekejap. Bu, aku mengerti, bisik Fifi lirih.

Senin, 13 Mei 2013

Essay Budaya


Pesan Kesetaraan Langgam Jawa
Oleh : Zusiana E Triantini*

….Tak gadang biso urip mulyo
Dadio wanito utama
Luhurke asmane wong tuo
Dadio pandekare bangso....

            Bait-bait syair di atas saya kutip dari sebuah langgam jawa yang saya dengarkan di sela-sela rutinitas pekerjaan yang saya lakukan. Tentu langgam ini sudah lama ada, tetapi mungkin baru kali ini saya menyadari pesan yang sejatinya ingin disampaikan dalam langgam tersebut. Entah karena situasi saat itu yang memang secara kebetulan saya mengerjakan sebuah tulisan tentang keadilan bagi perempuan atau memang karena kesadaran saya akan pesan langgam tersebut muncul karena ketidaksengajaan. Bisa jadi dua-duanya.

Bagi sebagian besar masyarakat jawa, khususnya jawa timur dan jawa tengah, langgam jawa tidak lagi asing di telinga. Biasanya langgam dinyanyikan saat masyarakat jawa menyelenggarakan hajatan, seperti hajatan pernikahan, khitanan dan juga biasa diperdengarkan di radio-radio yang secara khusus memiliki program untuk memutarnya. 

Meski harus bersaing dengan lagu-lagu 
dari aliran lain seperti pop, rock, jas, dan dangdut, keberadaan langgam masih cukup lestari hingga saat ini, bahkan beberapa pencipta langgam jawa tersebut mulai membuat sebuah kolaborsi antara langgam jawa dengan aliran musik lainnya. Jadi yang biasanya langgam diiringi dengan kelompok karawitan, kini langgam bisa dinyanyikan dengan iringam kelompol band rock dan pop.

Nah, langgam lelo ledhung ini bukan akan di tilik dari segi musikalitasnya, melainkan akan ditilik dari segi subsbstansi syair dalam beberapa bait yang ada dalam langgam tersebut. Satu hal yang menarik dari bait-bait langgam lelo ledhung di atas. Ada pesan-pesan kesetaraan yang disampaikan lewat bait langgam tersebut. Sebuah cita-cita luhur orang tua terhadap anak perempuannya dengan harapan besar ”dadio wanito utomo, luhurke asmane wong tuo, dadio pandekare bongso”. Di sinilah letak kesetaraan yang saya maksud. Di tengah budaya patriarkhi yang sangat kental dan sulit dilunturkan di masyarakat jawa, pesan bahwa wanita atau perempuan pun harus menjadi pandekar bangsa merupakan pencerahan yang patut untuk diperhitungkan. Bukan lagi masak, manak dan macak yang seringkali diidentikan dengan tugas perempuan jawa.

Menjadi ”wanito utomo” bukanlah hal yang mudah, butuh perjuangan untuk belajar tentang banyak hal, apalagi ”dadio pandekare bongso” yang bisa diibaratkan menjadi pemimpin atau pejuang bangsa. Sungguh cita-cita yang sangat mulia yang dan butuh kekuatan yang besar dari berbagai aspek untuk mewujudkannya. 

Mengapa langgam lelo ledhung terlihat lebih istimewa? Coba bandingkan misalnya dengan beberapa langgam lainnya yang seringkali membawa pesan-pesan percintaan dan patah hati seperti langgam Esemmu  “pitung sasi lawase nggonku ngenteni, mung sliramu wong bagus kang dadi ati”, atau kita bisa melihat lirik langgam Jangkrik Genggong, “kendal kaline wunggu, ajar kenal karo aku” dan beberapa langgam lainnya. Langgam lelo ledhung membawa pesan moral yang cukup kuat bagi orang yang seringkali bersikeras mengukuhkan budaya patriarkhi dengan jargon ”laki-laki”-nya.

Langgam ini sejatinya ingin menyampaikan bahwa perempuan-pun yang seringkali diidentikan dengan stereotipe kewanitaannya bisa menjadi salah satu pejuang yang mengharumkan nama bangsa. Sedangkan langga lainnya memiliki kecenderungan yang melihat perepuan dari kacamata feminitas dan percintaan yang seringkali menunjukkan kelemahan dan menyudutkan perempuan pada paparan praksis kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya.

Tenbang lelo ledhung hadir sebagaimana cita Kartini menjadikan perempuan sebagai pribadi mulia dan tangguh serta berwibawa sebagaimana gambaran pejuang-pejuang perempuan di Indonesia. Cita luhur tersebut haruslah diapresiasi secara baik dengan cara melestarikan langgam tersebut melalui berbagai media yang ada.

Meski demikian, saya tidak bermaksud menngesampingkan atau tidak menghargai langgam-langgam yang lain sebagai sebuah karya seni, apalagi dalam bingkai pelestarian budaya jawa. Semoga ke depan, banyak lagi tercipta lelo ledhung-lelo ledhung lainnya yang mengusung pesan-pesan moralitas bagi bangsa ini.

* pengurus fatayat NU DIY



Jumat, 03 Mei 2013

Resensi buku


Dari Perempuan untuk Kesuksesan

Judul  : Sifat-sifat perempuan yang Membuat Pasangannya Jadi Orang Sukses
Penulis      : Muyassarotul Hafidzoh
Penerbit    : Diva Press
Tahun        : 2013
Halaman`  : 216 Halaman                    
Peresensi   : Devisi Litbang*

Memahami sifat-sifat perempuan, alangkah lebih baik kalau memahami apa perempuan itu sendiri. Ada banyak istilah terhadap sosok anak cucu hawa ini. Tetapi buku menggunakan kata perempuan. Ada juga yang menyebut wanita, ada juga masyarakat yang menyebut betina. Bahasa-bahasa itu hadir dengan latar historis dan sosiologis-antropologisnya sendiri, sehingga seringkali makna yang hadir menjadi bias. Padahal, bahasa-bahasa itu untuk  memberikan penanda bagi perempuan. Semua perempuan tentu akan akan sepakat kalau penanda itu memberikan makna positif, bukan negatif.
Baik perempuan maupun wanita, makna yang diharapkan adalah makna yang positif, bukan makna yang dipolitisasi. Anak cucu hawa menghendaki yang terbaik, yang ditempatkan secara terhormat, bukan dimarginalisasikan. Karena Tuhan menciptakan perempuan bukan untuk dinistakan, melainkan untuk mendapatkan penghormatan. Dengan kehormatan itulah, perempuan akan menjadi pasangan yang memberikan energi besar bagi suaminya

Rabu, 27 Maret 2013

Opini


Lagu Dolanan Sebagai Warisan Budaya yang Terlupakan
Oleh: Siti Muyassarotul Hafidzoh*


Cublak Cublak suweng
Suwenge ting gelèntèr
Mambu ketundhung gudèl
Pak empong lera-lèrè
Sapa ngguyu ndelikkakè
Sir sir pong dhelè gosong
Tentu, lagu dolanan di atas sangat dekat dengan kehidupan masa kecil kita. Namun apakah lagu dolanan ini masih digemari anak-anak kecil masa sekarang?  Seiring semakin berkembangnya lagu-lagu modern bahkan munculnya berbagai boyband maupun girlband yang mampu menyedot perhatian anak bangsa. 
Mereka kini lebih menyukai menyanyikan lagu-lagu yang seharusnya untuk remaja dan dewasa, akhirnya lagu dolanan yang sebenarnya adalah warisan budaya ditinggalkan.
Selain merupakan warisan budaya, lagu dolanan juga mengandung unsur seni dan sastra dalam syair-syair yang dinyanyikan. Kedua unsur ini kemudian di wujudkan dalam bentuk permainan anak kecil. Bermain sambil menyanyi merupakan metode pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan kemampuan bersosialisasi dengan teman-temannya. Seperti dalam penelitian yang dilakukan Ninyoman Seriati (2012) Universitas Negeri Yogyakarta tentang permainan tradisional yang  dapat menstimulasi keterampilan sosial anak usia dini. Penelitian ini menjelaskan bahwa permainan gerak dan lagu yang berasal dari kebudayaan lokal mampu mempengaruhi ketrampilan sosial pada anak.
Lagu dolanan merupakan rangkaian bahasa yang memiliki irama, persajakan dan mengandung makna yang adi luhung. Bermain dengan terus melesarikan budaya sudah saatnya digerakkan kembali. Karena kekuatan dari pelestarian budaya terletak pada bagaimana kita mengakui dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sudah beberapa kebudayaan bangsa ini diakui oleh bangsa lain, karena kelalaian dalam menjaga warisan budaya. Bahkan terkesan tidak bangga dengan warisan para leluhur.

Jumat, 22 Maret 2013

Kegiatan PW Fatayat


Sarasehan Sastrawan Perempuan
“Pengarusutamaan Gender dalam Karya Sastra"

Acara yang diselenggarakan oleh Devisi Sosial, Seni dan Budaya PW. Fatayat NU DIY pada Minggu 17 Maret 2013 lalu mampu menggugah semangat menulis bagi para peserta. Di Pendopo LKiS ini acara sarasehan berlangsung menarik dan seru. Mb' Abidah pun terlihat bersemangat dalam mengisi acara tersebut. Ia pun banyak bercerita tentang kisahnya selama pembuatan Novel "Perempuan Berkalung Sorban", proses difilm-kannya sampai bagaimana reaksi masyarakat dalam menanggapi kontroversi yang ada pada Film tersebut. 
Begitu pun dengan Mb' Ismaa Kazee, dia menjelaskan bahwa penulis perempuan yang mengangkat tema pengarusutamaan gender masih sangat minim, kita harus menciptakan regenerasi untuk penulis perempuan. mb' Ulfatin CH juga menjelaskan akan kekuatan syair itu sangat dasyat merubah pola pikir masyarakat.
untuk lebih jelasnya simak notulensi dari kami, semoga bermanfaat:

Abidah El-Khaliqy:
Terima kasih untuk kedatangan dan kesabaran teman-teman serta molornya juga J. Saya yakin semua sudah baca makna wal’ashri, ini luar biasa. Calon sastrawan memang harus begini J
Di Majenang ada Ponpes Miftahul Huda, dipimpin oleh mantan Dirjen haji Kemenag Pusat, Bpk KH Slamet Riyanto. Saya ditodong memberikan setetes ilmu kepada para wakil santri, kyai, bu nyai yang ada di situ. Karena acaranya mendadak, saya bicara apa saja yang penting bagaimana mereka tahu dari yang sedikit  itu. Acara itu begitu penuh dan padat. Dalam perjalanan itu saya disms Azzah, “mbak jangan lupa besok acara Sarasehan ya”. Saya bilang: “saya siap”, padahal belum saat itu. Tapi sekarang saya sudah siap.
Setahu saya kata “pengarusutamaan” itu dari kata “Mainstream”, berarti pemainstreaman gender dalam karya sastra. Saya pikir ini berhubungan dengan novel “Perempuan Berkalung Sorban”. Kalau saya harus membicarakan novel itu dari A sampe Z kita akan ketemu dengan tema ini dengan sempurna.
Pagi ini akan saya ceritakan novel ini, latarnya, dibikinnya seperti apa, proses dibuat film seperti apa lalu ada kontroversi.
Gagasan awalnya adalah dari Yayasan Kesejahteraan Fatayat (YKF) DIY. Kami bergabung di situ dan menggagas sebuah media pemberdayaan perempuan melalui novel, maka ditulislah novel ini. Jadi ide awalnya dari YKF karena mereka punya program pemberdayaan perempuan. Saya bukan dari YKF. Saya dipanggil untuk hadir, kemudian kami sepakat. Saya lihat apa yang akan dilakukan YKF itu bukan hanya bagus tapi juga mulia.
Novel ini kan isinya kampanye tentang hak reproduksi perempuan, seputar fiqhunnisa. Pengetahuan kita tentang kesehatan reproduksi adalah ketika kita hamil, menyusui, hanya sampai di situ. Padahal ternyata ketika kita ingin mengetahui lebih jauh tentang reproduksi ini di sana ada hak-hak perempuan. Dalam fiqhunnisa sudah diatur bahkan sudah diratifikasi oleh PBB, namum belum tersosialisasi. Ternyata di situ saya tahu hak reproduksi peremouan itu menyangkut seluruh daur kehidupan peremouan dari mulai lahir sampai ke liang lahat. Seperti belajar dari lahir sampai mati minal mahdi ilallahdi. Mulai aqiqah, laki-laki 2 kambing perempuan hanya satu. Ketika perempuan mens ada hak reproduksi yang perlu diberikan oleh masyarakat. Kita sendiri sebagai perempuan belum tahu. Inilah yang ingin disampaikan oleh novel ini.

Selasa, 11 Desember 2012

audiensi PW Fatayat NU DIY di Kantor KR

lebih lengkap baca koran Kedaulatan Rakyat, Selasa 11 Desember 2012 halaman 9

Kegiatan PW Fatayat DIY


PW Fatayat DIY adakan FGD Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup  

Ahad (2/12/2012), pengurus wilayah (PW) Fatayat DIY menyelenggarakan Focus Group Discussion(FGD) bidang kesehatan dan lingkungan hidup (Kesling) di kantor PCNU Kulon Progo (KP). Sasarannya adalah para kader fatayat cabang dan anak cabang se-KP. FGD di KP ini merupakan rangkaian terakhir setelah sebelumnya kegiatan yang sama diadakan juga di 4 cabang  Fatayat lainnya. Pertama kali di PC Fatayat Kota Jogja tanggal 29 September 2012, kedua PC Fatayat Sleman di PCNU Sleman 30 September 2012, ketiga PC Fatayat Bantul 19 Oktober 2012 dan keempat PC fatayat Gunung Kidul pada 11 November 2012. Tujuan program FGD ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan (Assessment need) terkait kesehatan reproduksi dan lingkungan hidup di tiap-tiap cabang.

Ada beberapa poin FGD yang ditanyakan kepada para kader Fatayat Cabang dan anak cabang. Antara lain; pengumpulan data awal tentang pengetahuan kesling, penilaian kapasitas internal kader tiap cabang, program apa saja yang pernah dijalankan dalam bidang kesling, identifikasi jejaring dan potensi yang ada serta apa yang dapat di-support oleh PW berdasarkan hasil FGD.

Senin, 10 Desember 2012

Undangan Acara Pelatihan Jurnalistik

PIMPINAN WILAYAH
FATAYAT NAHDLATUL ’ULAMA
 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Jl. HOS. Cokroaminoto Sudagaran Gg. Ngadimulyo TR III/890-B Yogyakarta 55244 Telp. (0274) 7888440 E-mail:pwfatayatdiy@gmail.com


Nomor             : 10/ PAN-PJ/12/2012
Lamp.              : 1 lembar
Hal                  : Undangan

Kepada Yth.
Pengurus PW Fatayat NU DIY
Di-Tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT, semoga kita senantiasa mendapatkan limpahan rahmat-Nya.
Selanjutnya, kami dari Divisi Litbang PW Fatayat NU DIY akan mengadakan Pelatihan Jurnalistik dengan tema “Menggugah Etos Menulis yang Memberdayakan”. Untuk itu, kami mengharap kesediaan sahabat untuk hadir pada:
Hari/tanggal                : Ahad, 16 Desember 2012
Waktu                         : 08.00-16.30 WIB
Tempat                        : Masjid Jam’i Kodama, Krapyak Kulon Panggungharjo Sewon
  Bantul Yogyakarta (Depan RS. Patmasuri Krapyak).
Demikian undangan ini disampaikan, atas kesediannya dihaturkan banyak terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Yogyakarta, 2 Desember 2012
                                                                                                Mengetahui                            
Ketua Panitia                                                              Ketua Umum PW Fatayat NU DIY
           

Siti Muyassarotul Hafidzoh                                                  Isti Zusrianah




Schedule Acara
Pelatihan Jurnalistik PW Fatayat NU DIY
“Menggugah Etos Menulis yang Memberdayakan”

Waktu
Acara
Keterangan
08.00-08.300
Persiapan & Regestrasi peserta
Panitia
08.30-09.00
Pembukaan :
          1. Prakata Panitia
           2. Sambutan Ketua Umum PW Fatayat NU DIY.

MC
09.00-10.30
Pemateri I:
Jurnalistik Dasar tentang Berita
(Oleh: Redaktur KR)
Bpk. Jayadi Kastari
Moderator
10.30-12.00
Pemateri II:
Pengelolaan Media On-line
(Oleh: Pimred Kabaranyar.com)
Bpk. Mustofa Harun

Moderator
12.00-13.00
Ishoma    |
Panitia
13.00-14.30
Pemateri III:
Membangun Jaringan Media
(Oleh: LTN PWNU DIY)
Moderator
14.30-15.00
Coffee break & Sholat Ashar

Panitia
15.00-16.00
Praktik jurnalistik
Panitia
16.00-16.30
RTL
Panitia
16.30-
Penutup
MC  


*Diharapkan Per-Bidang mengirimkan 1 delegasi.
  CP: 085729679937 (Siti Muyassarotul Hafidzoh)